Doa Setelah Adzan [Arab, Latin dan Terjemahan] Sesuai Sunnah

Doa Setelah Adzan [Arab, Latin dan Terjemahan] Sesuai Sunnah - Terdengar suara adzan di masjid atau mushola terdekat, yang berarti telah datangnya waktu sholat. Kita sebagai muslim baik laki-laki atau perempuan diwajibkan untuk melaksanakan sholat wajib 5 waktu. Bagi laki-laki diwajibkan sholat berjamaah di masjid, karena sesuai dengan perintah rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Untuk wanita bisa melaksanakan sholat dirumah, tidak diwajibkan bagi wanita melaksanakan sholat wajib di masjid.

Berbicara tentang adzan, ada juga adzan yang paling ditunggu oleh semua muslim. Yaitu adzan maghrib pada bulan ramadhan pasti ditunggu oleh semua muslim yang sedang berpuasa. Yaiyalah, diwaktu itu semua muslim berbahagia karena bisa kembali makan dan minum sehabis berpuasa seharian penuh. Kembali lagi ketopik adzan, ternyata dibalik panggilan adzan memiliki rahasia.

Apabila anda menjawab adzan, membaca shalawat dan berdoa untuk nabi sallallahu alaihi wasallam agar mendapatkan wasilah maka anda akan mendapatkan syafaat nabi sallallahu alaihi wasallam pada hari kiamat kelak nanti. Dibagian bawah juga saya sudah sediakan cara menjawab adzan, adab ketika mendengar adzan, hadits dan rahasia dibalik menjawab adzan. Jadi simak artikel ini sampai habis.

Doa Setelah Adzan Sesuai Sunnah

Bacaan arab latin arti doa setelah adzan

ALLAAHUMMA ROBBA HAADZIHID DA'WATIT TAAMMAH, WASHSHOLAATIL QOO-IMAH, AATI MUHAMMADANIL WASHIILATA WAL FADHILLAH, WAB'ATSHU MAQOOMAM MAHMUUDANIL LADZII WA'ADTAH, INNAKA LAA TUKHLIFUL MII'AADZ. YA ARHAMAR ROOHIMIIN
"Ya Allah, Sesungguhnya Engkau adalah pemilik panggilan yang sempurna ini, dan sholat akan didirikan, Karuniakanlah kepada Nabi Muhammad al wasilah, dan karunia karunia yang banyak. Dan karuniakanlah dia sebagaimana telah Engkau janjikan. Wahai Dzat yang Maha Penyayang"


Cara Menjawab Adzan Sesuai Sunnah

Cara Menjawab Adzan Sesuai Sunnah

Disunnahkan bagi yang mendengar adzan dan iqamat untuk mengucapkan sebagaimana yang diucapkan muadzin.

Dari Abu Sa’id Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Jika kalian mendengar adzan, maka ucapkanlah sebagaimana yang diucapkan muadzin.” [24]
Dari ‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu, dia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Jika muadzin mengucapkan, ‘Allaahu akbar, Allaahu akbar.’ Maka hendaklah salah seorang di antara kalian (juga) mengucapkan, ‘Allaahu akbar, Allaahu akbar.

Kemudian jika muadzin mengucapkan, ‘Asyhadu allaa ilaaha illallaah.’ Maka ia mengucapkan, ‘Asyhadu allaa ilaaha illallaah.

Kemudian jika muadzin mengucapkan, ‘Asyhadu anna Muhammadar Rasulullaah.’ Maka ia mengucapkan, ‘Asyhadu anna Muhammadar Rasulullaah.

Kemudian jika muadzin mengucapkan, ‘Hayya ‘alash shalaah.’ Maka ia mengucapkan, ‘Laa haula walaa quwwata illaa billaah.

Kemudian jika mu-adzin mengucapkan, ‘Hayya ‘alal falaah.’ Maka ia mengucapkan, ‘Laa haula walaa quwwata illaa billaah.

Kemudian jika muadzin mengucapkan, ‘Allaahu akbar, Allaahu akbar.’ Maka ia mengucapkan, ‘Allaahu akbar, Allaahu akbar.

Kemudian jika muadzin mengucapkan, ‘Laa ilaaha illallaah.’ Maka ia mengucapkan, ‘Laa ilaaha illallaah,’ dengan hati yang tulus, maka dia akan masuk Surga.” (25)

Barangsiapa mengucapkan sebagaimana ucapan mu-adzin, atau ketika muadzin mengucapkan hayya ‘alatain (“Hayya ‘alash shalaah” dan “hayya ‘alal falaah”), ia mengucapkan, “Laa haula walaa quwwata illaa billaah,” atau menggabungkan antara apa yang diucapkan oleh muadzin dan hauqalah (“Laa haula walaa quwwata illaa billaah.”), maka dia telah berbuat benar insya Allah.
Jika muadzin selesai adzan dan iqamat serta pendengar telah menjawabnya, maka hendaklah mengucapkan apa yang ada dalam dua hadits berikut ini:

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, dia mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Jika kalian mendengar mu-adzin, maka ucapkanlah sebagaimana yang ia ucapkan. Kemudian bershalawatlah untukku. Karena barangsiapa yang bershalawat untukku sekali, maka dengannya Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali. Kemudian mintalah al-wasilah kepada Allah untukku. Ia adalah sebuah tempat di Surga yang tak diraih kecuali oleh seorang hamba di antara hamba-hamba Allah. Dan aku berharap ia adalah aku. Barangsiapa memintakan untukku wasilah kepada Allah, maka dia layak mendapat syafa’atku.” (26)

Dari Jabir, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa yang ketika mendengar adzan mengucapkan, ‘Ya Allah, Rabb seruan yang sempurna ini serta shalat yang didirikan hammad wasilah dan keutamaan. Tempatkanlah ia pada kedudukan yang mulia sebagaimana Kau janjikan.’ Maka dia layak mendapat syafa’atku pada hari Kiamat.” (27)
Catatan: Disunnahkan bagi seorang muslim agar memperbanyak doa antara adzan dan iqamat. Karena doa pada waktu itu dikabulkan.
Dari Anas Radhiyallahu anhu, dia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Doa antara adzan dan iqamat tidak ditolak.” (28)
Menjawab adzan dan berdoa dengan doa setelah adzan, kemudian dilanjutkan dengan meminta wasilah untuk rasulullah shallallahu alaihi wasallam (wasilah adalah tempat tertinggi di surga, yang dikhususkan untuk para nabi-nabi). Maka manfaatnya anda akan mendapatkan syafaat rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada hari kiamat kelak.

Demikian ini pendapat madzhab Azh Zhahiriyah dan Ibnu Wahb. Dalil yang dibawakan ialah hadits Abu Sa’id Al Khudri yang berbunyi :

Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Jika kalian mendengar adzan, maka jawablah seperti yang disampaikan muadzin”. (Muttafaqun ‘alaihi).



Hukum Doa Setelah Adzan


HUKUM MEMBACA DOA SETELAH ADZAN


Para ulama terbagi dalam dua pendapat berbeda berkaitan dengan hukum mendengar dan menjawab adzan.


1. Hukumnya wajib
Demikian ini pendapat madzhab Azh Zhahiriyah dan Ibnu Wahb. Dalil yang dibawakan ialah hadits Abu Sa’id Al Khudri yang berbunyi :
Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Jika kalian mendengar adzan, maka jawablah seperti yang disampaikan muadzin”. (Muttafaqun ‘alaihi) [18].

Dalam hadits ini terdapat perintah menjawab adzan, dan perintah, pada asalnya menunjukkan wajib.


2. Hukumnya sunnah
Ini merupakan pendapat mayoritas ulama [19]. Mereka menyatakan, bahwa hadits Abu Sa’id di atas dipalingkan dari wajib menjadi sunnah dengan hadits ‘Aisyah yang berbunyi :
Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, jika mendengar muadzin membaca syahadat, maka Beliau berkata “dan aku dan aku”. [HR Abu Dawud].

Dalam hadits ini, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menjawab adzan secara sempurna. Mereka juga berdalil dengan hadits Anas bin Malik :
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerang (suatu kaum) ketika terbit fajar. Dan Beliau memperhatikan adzan. Apabila Beliau mendengar, maka Beliau menahan. Dan bila tidak (mendengar), maka Beliau menyerang. Lalu Rasulullah mendengar seseorang berkata: (الهُ أَكْبَرُ الهُُ أَكْبَرُ ), maka Beliau menjawab: “Di atas fithrah” (عَلَى الْفِطْرَةِ ), kemudian ia (seseorang itu) mengatakan: (أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الهُا أَشْهَدُ ) dan Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Engkau telah keluar dari neraka”. [HR Muslim].

Dalam menjelaskan hadits ini, Ibnu Hajar menyatakan, ada sebagian riwayat berkaitan dengan hadits ini yang menunjukkakan, bahwa hal ini terjadi ketika waktu akan shalat [20]. Hal ini juga didukung oleh amalan kaum mualimin pada zaman Umar, sebagaimana disampaikan Tsa’labah bin Abi Malik :
Mereka dahulu berbincang-bincang pada hari Jum’at dan Umar duduk di atas mimbar. Jika muadzin selesai adzan, maka Umar bangun dan tak seorangpun berbicara. [HR Asy Syafi’i dalam Al Um, dan dishahihkan An Nawawi, sebagaimana dijelaskan Albani dalam Tamamul Minnah, hlm. 339].
Riwayat ini juga dikuatkan dengan riwayat yang dikeluarkan Ibnu Abi Syaibah dengan sanad shahih, sebagai berikut:
Aku menjumpai Umar dan Utsman; jika seorang imam keluar (menuju masjid), maka kami meninggalkan shalat, dan bila berbicara (berkhutbah), maka kami meninggalkan perbincangan. [HR Ibnu Abi Syaibah dan dishahihkan Al Albani dalam Tamamul Minnah, hlm. 340].
Pendapat ini yang dirajihkan Syaikh Al Albani [21] dan Syaikh Masyhur Salman.
Syaikh Al Albani mengatakan: Dalam atsar ini, terdapat dalil yang menunjukkan tidak wajibnya menjawab (seruan) muadzin, karena pada zaman Umar terjadi amalan berbincang-bincang ketika adzan, dan Umar diam. Saya banyak ditanya tentang dalil yang memalingkan perintah yang menunjukkan kewajiban menjawab adzan. Maka saya menjawab dengan atsar ini. Demikian juga iqamat, dalam hal ini sama hukumnya dengan adzan, sebagaimana dinyatakan Lajnah Daimah Lil Buhuts Al Ilmiyah Wal Ifta, dalam pernyataan mereka yang berbunyi “termasuk sunnah seorang yang mendengar iqamat menjawab seperti ucapan muqim (orang yang beriqamah); karena iqamat merupakan adzan kedua, sehingga dijawab seperti dijawabnya adzan [22]. Wallahu a’lam.


Hukum menjawab adzan dalam keadaan shalat

Berdasarkan hukum di atas, maka muncullah permasalahan lainnya, yaitu bagaimana hukum seseorang yang sedang shalat mendengar adzan, apakah perlu menjawab ataukah tidak? Dalam hal ini terdapat tiga pendapat ulama:

1. Wajib menjawab adzan walaupun dalam shalat
Kecuali ucapan hayya ‘ala ash shalat dan hayya ‘ala al falah (hai’alatain). Demikian pendapat madzhab Azh Zhahiriyah dan Ibnu Hazm.
Ibnu Hazm berkata: “Barangsiapa mendengar muadzin, maka jawablah sebagaimana yang diucapkan muadzin sama persis dari awal adzan sampai akhirnya. Baik ia berada di luar shalat atau di dalam shalat. Baik shalat wajib ataupun sunnah. Kecuali hayya ‘ala ash shalat dan hayya ‘ala al falah (hai’alatain), maka tidak diucapkan dalam shalat, dan diucapkan di luar shalat.”

Dalilnya ialah hadits Abdullah bin Amru dan Abu Sa’id Al Khudri yang berbunyi:
Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Jika kalian mendengar adzan, maka jawablah seperti yang disampaikan muadzin. [Muttafaqun ‘alaihi].
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salalm tidak mengkhusukan hal itu dalam shalat atau di luar. Sedangkan hai’latain merupakan ucapan manusia yang mengajak kepada shalat. Adzan seluruhnya adalah dzikir, dan shalat adalah tempat berdzikir”.[23]

2. Tidak menjawab adzan bila dalam keadaan shalat

Demikian ini pendapat mayoritas ulama (jumhur), dengan berdalil hadits Abdullah bin Mas’ud yang berbunyi:
Kami, dahulu memberikan salam kepada Nabi n dalam keadan Beliau shalat dan Beliau membalasnya. Ketika kami kembali dari negeri Najasi, kami memberi salam kepada Beliau dan (Beliau) tidak menjawab salam kami dan berkata: “Sesungguhnya dalam shalat adalah satu kesibukan”. [Muttafaqun ‘alaihi].
Hadits ini, menurut jumhur menunjukkan makruhnya menjawab salam yang hukumnya wajib, lalu bagaimana dengan adzan yang hukum menjawabnya saja sunnah? Terlebih lagi dalam shalat, seseorang sedang sibuk bermunajah kepada Allah, sehingga menjawab adzan dapat merusak kekhususan tersebut.

3. Menjawab adzan pada shalat sunnah dan tidak menjawab dalam shalat fardhu

Demikian salah satu pendapat dalam madzhab Malikiyah.
Adapun menurut penulis, dalam hal ini cenderung menguatkan pendapat jumhur, berdasarkan sunnahnya menjawab adzan yang telah dikemukan di atas. Wallahu a’lam.

Demikianlah sebagian hukum-hukum seputar adzan dan iqamat, yang penulis sampaikan secara ringkas. Mudah-mudahan bermanfaat.


Keutamaan Berdoa Sebelum Iqomah

Waktu antara adzan dan iqomah adalah waktu yang paling tepat kita untuk meminta apapun yang kalian inginkan. Karena doa antara adzan dan iqomah doanya tidak akan tertolak. Sebagaimana yang sesudai dengan hadits berikut ini.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya doa yang tidak tertolak adalah doa antara adzan dan iqomah, maka berdoalah (kala itu).” (HR. Ahmad 3/155. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

Doa sesudah iqomah

Sebelum melaksanakan sholat para jamaah segera merapakatkan shaf yang paling depan, maka akan dikumandakan iqomah yang menandakan sholat siap untuk dilaksanakan nah ini waktu yang tepat membaca doa setelah iqomah. Posisi sholat yang paling baik adalah posisi shaf pertama dan kedua, maka ketika adzan berkumandang maka segeralah berangkat kemasjid segera mungkin agar dapat posisi shaf paling depan berikut ini doa setelah iqamah.

Bacaan Arab Sesudah Iqomah

AQOOMAHALLAAHU WA-AD AAMAHAA MAADAA MATIS SAMAAWAATY WAL-ARDL

"Semoga Allah selalu menegakkan dan mengekalkan adanya shalat selama langit dan bumi masih ada."

Sesungguhnya hanya Allah yang memberikan Taufik dan Hidayah. Semoga bermanfaat bagi teman teman semua.
_______
Footnote
[1]. Majmu’ Syarhu Al Muhadzdzab, Imam An Nawawi, Tahqiq Muhammad Najib Al Muthi’i, Cetakan tahun 1415H, Dar Ihya` At Turats Al ‘Arabi, Beirut, 3/83.
[2]. HR Al Bukhari dalam Shahih-nya, kitab Al Adzan, Bab Bad’u Al Adzan, no. 604; Muslim, kitab Al Masajid, Bab Man Ahaqqu Bil Imamah, no. 674.
[3]. Nail Al Authar Min Al Ahadits Sayyid Al Akhyar Syarhu Muntaqa Al Akhbar, Muhammad bin Ali Asy Syaukani, Tahqiq Muhammad Salim Hasyim, Cetakan Pertama, Tahun 1415H, Dar Al Kutub Al Ilmiyah, Beirut, hlm. 2/32.
[4]. Lihat Fathul Bari Syarah Shahih Al Bukhari, Op.Cit., hlm. 2/78.
[5]. HR Al Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Al Adzan
[6]. Ahmad, no. 20719.
[7]. Syarhu Al Mumti’, Op.Cit., hlm. 2/37.
[8]. Tamamul Minnah Fi Ta’liq ‘Ala Fiqhi As Sunnah, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, Cetakan Ketiga, Tahun 1409 H, Dar Rayah, Riyadh, KSA, hlm. 144.
[9]. Majmu’ Al Fatawa, Ibnu Taimiyah, Tahqiq Abdurrahman bin Muhammad bin Al Qasim, tanpa tahun cetakan dan penerbit, hlm. 22/64.
[10]. Al Muhalla, Ibnu Hazm, Tahqiq Ahmad Syakir, Maktabah Dar At Turats, Kairo, hlm. 3/125.
[11]. Dinukil Ibnu Qudamah dalam Al Mughni, Op.Cit., 2/82.
[12]. Lihat Al Majmu’, Op.Cit., 3/114.
[13]. Irwa’ Al Ghalil, Op.Cit., 1/250 dan lihat haditsnya pada hadits no. 246 di dalam Irwa’, 1/264-265.
[14]. Al Mughni, Op.Cit., 2/83.
[15]. Al Majmu’, Op.Cit., hlm. 3/115.
[16]. Jami’ At Tirmidzi (Sunan At Tirmidzi), Tahqiq Ahmad Muhammad Syakir, Dar Al Kutub Al Ilmiyah, Beirut, 1/377.
[17]. Al Mughni, Op.Cit., 2/72.
[18]. Lihat Al Muhalla, Op.Cit., 3/148.
[19]. Lihat Al Majmu’, Op.Cit., 3/127.
[20]. Fathul Bari, Op.Cit., 2/93.
[21]. Tamamul Minnah, Op.Cit., hlm. 340.
[22]. Fatawa Al Lajnah Ad Daimah Lil Buhuts Al Ilmiyah Wal Ifta`, disusun oleh Syaikh Ahmad Abdurrazaq Ad Duwais, Cetakan Pertama, Tahun 1416H, hlm. 6/89 dan 90.
[23]. Lihat Al Muhalla, Op.Cit., hlm. 3/147
(24) Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/90 no. 661)], Shahiih Muslim (I/288 no. 383), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/224 no. 518), Sunan at-Tirmidzi (I/134 no. 208), Sunan Ibni Majah (I/238 no. 720), dan Sunan an-Nasa-i (II/23).
[25]. Telah berlalu takhrijnya.
Shahih: [Shahih Sunan Abi Dawud (II/169 no. 495), Shahiih Muslim (I/289 no. 385) dan Sunan Abi Dawud (Aunul Ma’buud (II/228 no. 523)].
(26) Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 198)], Shahiih Muslim (I/288 no. 384), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/225 no. 519), Sunan at-Tirmidzi (V/ 247 no. 3694) dan Sunan an-Nasa-i (II no. 25).
(27) Shahih: [Irwaa’ul Ghaliil (no. 243)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/94 no. 614), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/231 no. 525), Sunan at-Tirmidzi (I/136 no. 211), Sunan an-Nasa-i (II/27) dan Sunan Ibni Majah (I/239 no. 722).
[28]. Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 489)], Sunan at-Tirmidzi (I/137 no. 212) dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/224 no. 517).
Sumber: https://almanhaj.or.id/3081-adzan-dan-iqamah-2.html Ustadz Kholid Syamhudi
Sumber: http://doaniatsholat.blogspot.com/2016/11/doa-setelah-adzan-dan-iqomat-artinya.html
Disalin dari Blog Doa Niat Sholat.
channel daenkmar channel
Sumber: https://almanhaj.or.id/955-apa-yang-harus-diucapkan-ketika-mendengar-adzan-dan-iqamat.html